Ads

Tuesday, 18 April 2017

20 Warisan Budaya Tak Benda yang didaulat UNESCO Desember 2015

Pada Selasa (2/12) kemarin, UNESCO menggelar Sidang ke-10 Komite Budaya Tak Benda di Windhoek, Namibia. Ada 22 Warisan Budaya Tak Benda terbaru dari UNESCO, salah satunya adalah 9 jenis tari Bali.

Sidang ke-10 Komite Budaya Tak Benda digelar di Windhoek, Namibia, beberapa waktu lalu. Hasilnya, 22 Warisan Budaya Tak Benda dikeluarkan oleh UNESCO.

Warisan Budaya Tak Benda mencakup ritual, festival, kesenian tradisional dan praktek sosial di sebauh daerah. Penetapan Tari Bali sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda berarti Indonesia telah memiliki tujuh elemen budaya dalam Daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.

Enam elemen dari Indonesia yang telah terdaftar sebelumnya adalah Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), dan Noken Papua (2012). Serta satu program Pendidikan dan Pelatihan tentang Batik (2009).

Selain tari Bali, ada lebih dari 20 Warisan Budaya Tak Benda lainnya yang didaulat UNESCO. Mengutip situs resmi UNESCO, Selasa (8/12/2015), berikut daftarnya:

1. Sbua, ritual ziarah yang berlangsung secara tahunan di wilayah Gourara (Algeria)
2. Festival api tahunan di Andorra, Spanyol, dan Prancis
3. Filete Porteno, teknik melukis ala warga Buenos Aires (Argentina)
4. Tradisi menunggang kuda di Austria, sekaligus High School of the Spanish Riding School di Wina
5. Kerajinan tembaga di Lahij, Azerbaijan
6. Festival rakyat Surova di wilayah Pernik, Bulgaria
7. Festival tarik tambang di Kamboja, Filipina, Korea, dan Vietnam
8. Musik Marimba asal Kolumbia dan Ekuador, sekaligus tarian tradisional dari wilayah South Pacific di Kolombia
9. Tradisi membuat kimchi di Korea
10. Fichee-Chambalaalla, festival Tahun Baru yang dilakukan Suku Sidama (Ethiophia)
11. Kerajinan marmer di Yunani
12. Tari Bali (Indonesia)
13. Aitysh/Aitys, seni improvisasi ala Kazakhstan dan Kyrgyzstan
14. Oshituthi shomagongo, festival buah marula (Namibia)
15. Tari Wititi di Colca Valley, Peru
16. Tarian anak laki-laki di Romania
17. Alardah Alnajdiyah, tradisi menari dan membuat puisi di Arab Saudi
18. Bagpipe, Slovakia
19. Gorogly, kesenian tradisional Turkmenistan
20. Al-Razfa, seni pertunjukan ala Uni Emirat Arab dan Oman
21. Kopi Arab yang merupakan simbol keramahtamahan, dan Majlis (kelompok sosial) di UEA, Arab Saudi, Oman, dan Qatar
22. Teknik bertanam tradisional di Curagua, Venezuela

Saturday, 8 April 2017

Taman Sungai Mudal, Kulon Progo

Taman di pinggir sungai ini alamnya masih alami, air terjunnya bagus segerrrr...dan di olah oleh warga lokal sendiri,selain itu juga sudah ada warung sederhana yang letaknya diatas. Sembari duduk menikmati pemandangan yang hijau dan asri kamu bisa mencicipi aneka gorengan atau snack yang berada di sekitar taman,  ada tempe, tahu, dan lainya. 
 
Sungai mudal adalah salah satu wisata air di kulonprogo. Untuk sampai ke tempat ini, dibutuhkan sekitar satu setengah jam dari Kota Jogja. Yakin teman-teman tidak akan menyesal ke sini. Sungai Mudal memiliki dua tempat pemandian dengan kedalaman masing-masing 1 meter (berada di bagian atas) dan 2 meter (berada tepat di belakang saya). Yang menariknya ialah di tempat pemandian yang berkedalaman 1 meter dan telah disediakan free wifi. Kurang apa lagi, bro? Kamu bisa bersenang-senang sambil internetan gratis.  
 
Taman Sungai Mudal merupakan obyek wisata alam yang terletak 500 dpl. Obyek ini merupakan mata air bagi sungai yang mengalir ke Curug Kembang Soka daan Kedung pedut. Cara terbaik untuk mencapai obyek ini adalah dengan motor touring, karena medan yang dilewati cukup ekstrim. 
 
Kegiatan yang bisa kamu lakukan disini antara lain: ada flying fox, camping ground, foto selfie, menikmati gemricik air disuasana yang sejuk dan teduh dan berenang. Disini juga telah tersedia gazebo untuk istirahat wisatawan tak lupa juga kamar ganti, mushola dan warung makan.
 
 Taman Sungai Mudal Kulon Progo beralamat di Banyunganti, Jatimulyo, Girimulyo, Jatimulyo, Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674, Indonesia.
 

Rute Menuju Hutan Pinus Pengger Dlingo Bantul

Hutan Pinus Pengger merupakan hutan pinus di Kabupaten Bantul yang masih satu kawasan dengan Hutan Pinus Mangunan. Hutan Pinus Pengger terletak di Dusun Sendangsari, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain menikmati sunset di tempat ini kala cuaca cerah wisatawan juga bisa menikmati pemandangan Gunung Merapi dari kejauhan. Di Pinus Pengger ini wisatawan juga bisa menikmati tempat lainnya yang masih sama dengan lokasinya yakni Goa Macan, Goa Lempeng dan Watu Ngadek. Sekilas tentang Goa Macan ini wisatawan tidak perlu takut bukan berarti ini tempat macan melainkan di dinding-dinding goa batinnya mirip dengan cakaran macan. 
 
Selain itu wisatawan juga bisa menikmati spot menarik yakni Watu Ngadek. Watu Ngadek (batu berdiri) ini seperti gundukan batu besar sehingga kita bisa menikmati pemandangan alam dari atasnya. Bentuk kontur batunya hampir sama dengan batuan vulkanik yang sama seperti di Gunung Api Purba Batur.

Rute untuk menuju ke tempat ini sangat musah yaitu dari Jogja melewati Piyungan kemudian melewati Jalan Pathuk, sampai di perempatan Pathuk ambil arah menuju Dlingo sekitar 4,5 km. Hutan Pinus Pengger ini lebih mudah diakses dari arah utara, berbeda dengan Hutan Pinus Mangunan yang harus melewati Imogiri.

Dari Yogyakarta menuju Pinus Pengger
Yogyakarta > Ringroad Ketandan > jalan Wonosari > Perempatan Sampaan > Pertigaan Piyungan > Bukit Bintang > Patuk ( ada perempatan kanan jalan ada pos polisi ambil arah kanan menuju Dlingo ) > Wisata Watu amben > Hutan Pinus Pengger (kanan jalan)

Di Hutan Pinus Pengger wisatawan belum diberi karcis masuk, cukup membayar biaya parkir sebesar 3000 untuk sepeda motor dan 10.000 untuk mobil. 




Peta Wisata Klaten







Peta wisata Kabupaten Klaten terbaru, silahkan download...

Friday, 7 April 2017

Asal Usul Goa Pindul



     Sejarah Berdirinya Desa Wisata Bejiharjo
Desa Bejiharjo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Desa Bejiharjo merupakan sebuah desa yang dikaruniai sumber daya alam yang melimpah dan dari sekian sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sumber daya air yang tercukupi merupakan kelebihan dari Desa Bejiharjo. Sumber air tersebut berasal dari sumber mata air bawah tanah yang muncul ke permukaan yang banyak terdapat di Desa Bejiharjo.
Selain terdapat banyak kekayaan alam Desa Bejiharjo merupakan salah satu desa yang juga memiliki beragam kekayaan warisan budaya dan juga sejarah. Pada bagian ujung barat Desa Bejiharjo terdapat sentra kerajinan Blangkon, di sebelah timur terdapat Situs Purbakala Sokoliman yang merupakan peninggalan pengetahuan mengenai manusia purba dan di tengah desa terdapat peninggalan budaya yang amat langka yaitu Wayang Beber. Artefak Wayang Beber hanya bisa ditemukan di dua tempat di dunia ini yaitu di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo dan satu lagi terdapat di Pacitan. Di desa ini juga terdapat monumen yang menjadi penanda sejarah peristiwa pengeboman Belanda atas Desa Bejiharjo. Pengeboman terhadap Desa Bejiharjo dilakukan karena desa ini merupakan salah satu rute gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Desa Bejiharjo terdapat 12 Goa yang semuanya memiliki keunikan, salah satunya adalah Goa Pindul. Goa ini di dalamnya terdapat stalagtit terbesar, terbanyak dan teraktif serta panorama dinding goa yang menarik yaitu batu hiasan tirai, batu stalagtit yang sudah menyatu dengan stalagmit yang sering disebut dengan batu kolom, lapisan batu pasiran dan juga stalagtit yang tumbuh pada dinding goa yang disebut dengan batu cloustum.
Sadar akan potensi alam, budaya serta sejarah yang besar menjadi latar belakang masyarakat dan tokoh setempat untuk memperjuangkan Desa Bejiharjo menjadi Desa Wisata. Kelompok Sadar Wisata Desa Wisata Bejiharjo (Pokdarwis Dewa Bejo) lahir pada tanggal 30 Juni 2010 tepatnya pada hari Rabu. Latar belakang dibentuknya Pokdarwis  ini adalah dengan banyaknya potensi yang ada di dusun tersebut yaitu;  Goa Pindul, Goa Glatik, Sungai Oyo, Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, Legenda Gedong (Legenda Sendang Tujuh, legenda Wali Aji, Sepetaking dan Sobatullah). Masyarakat dan tokoh setempat yang peduli akan kemajuan dan perkembangan desa yang diketuai oleh Bapak Subagyo bersepakat untuk mengembangkan dan membangun potensi tersebut (wawancara dengan Bapak Pramuji, 16 Mei 2013).






Sumber: dewabejo.wordpress.com
Pada awalnya masyarakat Desa bejiharjo bergotong royong untuk melakukan pembersihan pada goa karena goa tersebut masih belum terawat dan layak untuk dijadikan obyek wisata andalan dari Desa wisata Bejiharjo. Selain warga masyarakat juga berkomitmen untuk menjaga kebersihan sumber mata air yang ada di desa Bejiharjo termasuk sungai yang mengalir didalam goa, segala kegiatan yang dapat mengotori goa dihentikan agar goa terjaga kebersihannya dan juga agar kondisi alam lingkungan sekitar tetap terjaga kelestariannya.
Untuk dapat membersihkan goa dan aliran air yang mengalir di dalam perut goa dibutuhkan waktu yang relatif lama yaitu kurang lebih tiga bulan, dikarenakan kondisi dan keadaan goa yang dalam dan juga panjang, akan tetapi setelah goa selesai dibersihkan dan siap untuk dijadikan obyek wisata susur goa maka semakin nampaklah keindahan alam yang dimiliki oleh Goa Pindul.
Setelah  keadaan goa sudah bersih dari rumput-rumput liar dan aliran airnya juga sudah bersih dan lancar kemudian masyarakat dan para tokoh tadi membentuk kesekretariatan pertama yang berlokasi di rumah Bapak Suratmin dengan peralatan yang masih ala kadarnya. Dengan adanya sekretariat yang ditujukan untuk melayani wisatawan yang datang untuk berkunjung maka sedikit demi sedikit wisatawan mulai datang mengunjungi Desa Wisata Bejiharjo dan mulai mengenal Goa Pindul sebagai wisata minat khusus alternatif yang menarik disamping beragam daya tarik wisata yang ditawakan oleh Kabupaten Gunungkidul (wawancara dengan Bapak Pramuji, 16 Mei 2013).
Pada tanggal 10 Oktober 2010 obyek wisata Goa Pindul dibuka Oleh Bupati Gunungkidul Alm. Bapak Sumpono yang bertepatan dengan FAM Tour Pejabat Kabupaten Gunungkidul. Dengan potensi yang dimiliki dan tingginya minat wisatawan yang datang mengunjungi Desa Wisata Bejiharjo maka pembangunan dan peningkatan sarana pendukung mulai dilakukan. Melihat tingginya kesadaran masyarakat akan perkmbangan desanya dan juga perkembangan jumlah kunjungan wisatawan Desa Wisata Bejiharjo maka Pemerintah melalui Dinas Pariwisata Yogyakarta memberikan pengadaan bantuan berupa baju pelampung, helm keselamatan dan juga 3 buah perahu karet. Peralatan keselamatan tersebut digunakan baik oleh pemandu maupun wisatawan yang melakukan aktivitas susur goa, Rafting Sungai Oyo dan Cave Tubing Goa Pindul.
Selain bantuan berupa peralatan keselamatan Dinas Pariwisata provinsi Yogyakarta juga membantu Pokdarwis Dewa Bejo dalam pelatihan kepemanduan yang dilakukan selama 10 hari. Dalam pelatihan tersebut pemandu diseleksi secara teliti karena lokasi dan medan yang dilakukan untuk melakukan aktifitas wisata adalah goa yang memiliki panjang  300 meter dan lebar 4 meter dengan kedalaman berkisar antara 3,5 meter – 5 meter dan pada lokasi tertentu pada goa memiliki kedalaman yang lebih dari 5 meter sehingga pemandu harus selalu siap dalam kondisi apapun untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan pengunjung.
 Perkembangan yang begitu pesat pada pembangunan sarana dan prasarana juga dengan adanya peningkatan jumlah wisatawan yang signifikan membuat Desa Wisata Bejiharjo mendapatkan Penganugerahan Desa Wisata Terbaik Tahun 2012. Penghargaan Desa Wisata Terbaik tersebut diserahkan langsung oleh Bapak Tazbir, M. Hum selaku Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.