Ads

Friday, 13 March 2015

Air Terjun Curug Bayat (Curug Indah Tegal Rejo) Gunungkidul

Sesuai namanya air terjun atau curug ini dinamakan Curug Indah Tegalrejo karena lokasi air terjun ini di Desa Tegalrejo, Gedangsari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tepatnya lagi berbatasan dengan Kabupaten Klaten, letaknya di selatan Kecamatan Bayat. Air terjun ini memiliki mata air yang jernih jika tidak terkena hujan, maklum kalo hujan ya airnya coklat dan keruh karena di atas sebelah kanan dan kiri adalah pegunungan. Untuk menuju tempat ini saya sarankan lebih baik lewat Klaten karena walaupun berada di Gunungkidul, jarak dari Kecamatan Bayat tidak terlalu jauh dan misalkan anda dari Jogja melewati Pathuk kemudian Wonosari akan membuang banyak waktu anda. Rute yang saya sarankan dari Jogja menuju tempat ini adalah sbb :

- Jogja - Prambanan - Tegalmas - Stasiun Srowot - Pasar Wedi - Kecamatan Bayat - Kodim Bayat - Kelurahan Tegalrejo - Curug

Jalan yang dilalui mulai dari Jogja - Kelurahan Tegalrejo sudah diaspal, dari Kelurahan sampai curug jalan agak berubah dan mulai menanjak serta jalan tidak rata dan ada sedikit bebatuan, keep safety aja. Disamping adalah tempat parkir sepeda motor serta jalan yang harus dilalui untuk sampai ke Curug ini, cukup memberi pengalaman yang seru kok,...






Atraksi wisata yang dapat anda lakukan disini antara lain : mandi, tapi saya sarankan jangan mencoba menaiki tebing diatas lalu kemudian terjun bebas ke bawah hal ini sangat berbahaya karena banyak bebatuan cadas dibawahnya. Kemudian anda juga bisa berfoto disini dengan background air terjun atau sungai yang mengaliri air terjun ini juga sangat eksotis. Ada juga jembatan kayu yang cocok untuk dijadikan lokasi preweed kamu tuh,...  



Nih, tak kasih gambar sungai nya, tapi ini warna pohonya tetep ijo loh seharusnya, pada waktu itu pas njepret lupa ngeset warna alhasil dapetnya kaya gitu karena keburu ada acara yang mendadak whahaow.

O iya untuk tiket masuk sepertinya gratis karna pada waktu kesana tidak aja petugas yang jaga dan sepertinya pengelola curug ini masih kurang serius untuk mengembangkan tempat nan eksotis ini, ya mudah-mudahan dari dinas terkait khususnya Dinas Pariwisata Gunungkidul lebih memperhatikan dan mulai mengembangkan kawasan ini dengan membentuk POKDARWIS di desa ini agar lebih bermanfaat dan memberikan tambahan ekonomi warga sekitar.




Monday, 12 January 2015

Jalan-Jalan ke Air Terjun Suwono Ngawi

 

Sore itu ternyata menjadi waktu yang sangat berharga untuk saya, kenapa ? Karna bisa melihat keindahan air yang mengalir deras di Kabupaten Ngawi. Pada sore itu kami berlima akhirnya berangkat dengan jalan kaki menuju salah satu air terjun yang katanya bagus (dibisikin anak-anak Dukuh Banjaran). Pasalnya kami sedang ada kegiatan KKN di Dukuh Banjaran tersebut, dan kurang enak rasanya kalau anak KKN tidak mengeksplor tempat-tempat menarik disekitar tempat pondokan. 

Akhirnya perjalanan kaki menuju Air Terjun Suwono yang terletak di Dusun Hargosari (kalau tidak salah) dimulai. Rombongan terdiri dari saya sendiri, dua orang sahabat KKN Deny Ardian dan Bayu Eko Pranoto serta tiga remaja asli Banjaran yaitu Setiawan, Ilham dan Syaifudin. 

Perjalanan kami tempuh sekitar satu jam lamanya, melewati alas (hutan) yang penuh dengan tumbuhan seperti pinus dan bambu. Kondisi medan yang naik turun menjadikan perjalanan kami agak lama karena sesekali berhenti untuk beristirahat. Sesekali menyapa penduduk yang sedang beraktifitas diluar rumah, ada beberapa penduduk yang sedang menyadap getah pinus. 
 

 Setelah melewati beberapa desa akhirnya suara gemricik airpun mulai terdengar. Angin sepoy-sepoypun menghampiri kami. Segarnya suasana mulai terasa disekitar air terjun satu ini. Akhirnya perjalanan sampai dan cukup melelahkan juga. Di sekitar air terjun banyak sekali bebatuan besar yang tersebar di aliran arus air dibawah air terjun itu. Setelah sampai di Air Terjun Suwono mata saya langsung terpejam dan seraya dalam hati berucap WOW luar biasa ciptaaan Tuhan. 

Keadaan air yang jernih membuat saya ingin merasakan sensasi membasuh muka dengan air ini, benar sekali rasanya segaarrr brrrr dicampur dengan suasana yang dingin membuat saya ingin berlama-lama bermain dengan air ini. sekian cerita saya,,,,,,



Wednesday, 10 December 2014

Gunung Api Purba Nglanggeran Patuk Gunungkidul yang Exotis

Menelusuri jejak Gunung Api Purba Nglanggeran




Selamat berjumpa lagi sobat ku semua, kali ini saya mau menulis artikel tentang jejak-jejak Gunung api Purba Nglanggeran.

Langsung aja kita mulai ya, Gunung Api purba atau Gunnung Api Nglanggeran merupakan gunung berapi pada jaman dahulu dan sekarang gunung api ini tidak aktif lagi sejak kurang lebih ratusan tahun yang lalu. Gunung ini terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul yang masih berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kenapa disebut Gunung Api Nglanggeran yaitu karena letak Gunung ini yang berada di Desa Nglanggeran.

Untuk menuju lokasi tidaklah sulit kawan, kalau dari JOGJAKARTA kita bisa mengambil rute dari terminal Giwangan kemudian cari bus yang menuju ke arah Wonosari setelah itu kita turun di kecamatan Patuk dan dari patuk kita naik ojek dari situ. Dari terminal Giwangan menuju Patuk kira kira 1,5 jam dan dari Patuk ke Gunung Api Purba kira kira sekitar 20an menit.

Perjalanan saya dimulai dari Klaten, karena saya adalah orang Klaten (bangga) haha... Sebelumnya saya kasih tahu tujuan pertama kali saya datang ke Gunung Api Purba ini adalah untuk mencari informasi mengenai apa yang ada di Gunung Api Purba sebagai salah satu objek wisata di Gunung Kidul yang mengusung konsep wisata ekowisata (ecotourism). Pada hari itu Kamis, 28 November 2013 saya dan teman saya pergi ke Gunung Api Purba ini dengan alat transportasi sepeda motor. Rute yang saya lewati adalah Klaten-Prambanan-Piyungan-Patuk-Nglanggeran. Waktu tempuh saya dari Klaten lewat rute ini kira-kira 1,5 jam. Namun, jika anda pergi di musim liburan high season bersiaplah untuk melawan kemacetan terutama di jalan-jalan kota seperti bandara Adisujipto, Malioboro, Keraton, dan Candi Prambanan.

Untuk biaya masuk ke objek wisata ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran ini kami dikenakan tarif sebesar Rp5000,-/pax dan parkir sepeda motor Rp2000,-/motor. Tarif sebesar Rp5000,- /pax merupakan tarif masuk objek pada siang hari, dan pada malam hari tiket masuknya sebesar Rp7000,-/pax. Kaget? Ya pertanyaan muncul ketika kami ingin mmembeli tiket di pos penjagaan retribusi disana memang ada dua tiket masuk pertama adalah siang hari dan kedua, adalah malam hari. Menurut Mas Agus beliau adalah salah satu pemandu yang sekaligus anggota dari kelompok taruna desa Nglanggeran yang ikut berpartisipasi dalam pengelolaan objek wisata ini, menuturkan bahwa selain siang hari banyak wisatawan yang datang kesini pada malam hari. Mereka datang kesini untuk camping untuk tujuan makrab ataupun pribadi untuk mengambil moment sunset/sunrise, tuturnya.

Perlu anda ketahui bahwa Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan kawasan ekowisata, jadi konsep ekowisata merupakan sebuah konsep wisata yang didalam kegiatan utamanya bertujuan untuk kelestarian lingkungan. Menurut Fandeli (1995), terdapat tiga dimensi didalam sebuah objek ekowisata yaitu dimensi konservasi, dimensi pendidikan, dan dimensi kerakyatan.

Dimensi Konservasi maksudnya adalah sebuah objek ekowisata harus mampu menjaga dan melestarikan alam objek yang ada didalamnya. Jadi dengan adanya upaya kelestarian alam ini diharapkan sebuah ekodestinasi sampai pada suatu saat nanti tidak akan mengalami kerusakan alam terutama yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia. Dimensi Pendidikan yang dimaksud disini yaitu sebuah objek ekodestinasi memiliki kegunaan sebagai tempat untuk melakukan sebuah penelitian. Di Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan objek yang banyak diteliti oleh para akademisi untuk keperluan akademis misalnya dari arkeologi, geografi, dll. Kemudian dimensi Kerakyatan, yaitu memberdayakan rakyat disekitar atau masyarakat disekitar objek ini yaitu pada prinsipnya didalam pengelolaan, perencanaan, dan aktualisasinya dilakukan oleh masyarakat sekitar itu sendiri mulai dari pemuda-pemudi karang taruna desa, kelompok sadar wisata desa itu dan kelompok ibu-ibu pkk.

Pendakian
Untuk mencapai puncak Gunung Api Purba yang eksotis nan cantik, kita melewati beberapa pos pendakian sepertinya ada lima pos pendakian. Kelima pos tersebut memiliki kondisi medan/jalur yang exstreem. Tetapi menurut saya jalur yang paling exstreem adalah jalur pendakian pos pertama, karena dijalur ini kita harus berjalan diantara apitan dua gunung yang besar dan jaraknya sangat sempit hanya dapat dilewati satu orang dan harus antri.

Untuk menuju puncak waktu yang dibutuhkan kira-kira 1,5 jam itu jika tanpa istirahat sob, artinya Jalan terus. Tapi waktu yang panjang itu sepertinya tidak akan terasa ketika sudah sampai di puncsk yang pemandanganya WOW banget Sob. Coba aja datang dan buktikan sendiri.

Fasilitas yang ada di Gunung Api Purba
-          -Pendopo (bisa menyewa jika akan dibutuhkan)
-          -Toilet dan Kamar mandi
-          - Homestay
-          - Mushola
-          - Tempat parkir
-          - Gazebo di pos-pos pendakian


Akhirnya sekian yang dapat saya ceritakan, kurang lebih saya mohon maaf . Terimakasih atas kunjunganya      

Tugu Kecamatan Wedi

Sebagai salah satu kecamatan yang masuk Kabupaten Klaten, Kecamatan Wedi akhir-akhir ini mulai berbenah. Banyak proyek yang sudah selesai dikerjakan diantaranya pembangunan Pasar Wedi, pelebaran jalan hingga pembangunan sebuah tugu yang berada persis di depan Kantor Kecamatan Wedi.

Sebagai sentra industri konfeksi Kecamatan Wedi memang layak mendapat julukan tersebut karena banyak sekali tempat-tempat yang memproduksi beragam pakaian baik kaos maupun batik. Selain kaos dan batik ternyata ada salah satu tempat di Kecamatan Wedi yang dijuluki Kampung Sablon. Di Kampung sablon ini banyak sekali perajin yang menggantungkan hidupnya dari usaha menyablon. Lokasi kampung ini berada di Desa Krangkungan sebelah barat Jembatan Jagalan. 

Jika anda berkunjung ke Kabupaten Klaten, belum enak rasanya kalau belum ke sentra-sentra kerajinan yang ada di sini. Jika anda ingin melihat-lihat koleksi batik, anda bisa mampir ke Konfeksi Batik Rizki yang berada di selatan Masjid Nurul Jami' kurang lebih 100m kanan jalan. Di tempat ini menyediakan berbagai macam baju batik mulai dari anak-anak remaja hingga dewasa. Selain harganya miring disini anda juga dapat memesan baju untuk keperluan acara anda seperti baju sinoman, baju seragam ibu pkk, seragam pengajian dll.

Saturday, 22 November 2014

Menggapai Puncak Di Gunung Api Purba Nglanggeran




Gunung Api purba Nglanggeran terletak di desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunung api ini dahulu merupakan salah satu gunung api yang aktif dan berbahaya, namun sudah ratusan tahun gunung api ini tidak lagi beraktifitas seperti layaknya gunung api lainya. 

  Pada bulan November 2013 lalu saya mencoba melihat dari jarak dekat tentang adanya gunung api purba dan akhirnya pada hari Kamis, 28 November 2013 saya pergi bersama teman saya. Latar belakang mengunjungi tempat ini pertama, karena ada tugas dari dosen tentang mata kuliah ekowisata; kedua, Gununga Api purba adalah salah satu daerah ekowisata yang ada di Jogjakarta; ketiga, karena kami berdua juga belum pernah ke tempat ini. 
Rute perjalanan yang kami lewati yaitu dari Yogyakarta-Piyungan-Bukit Bintang-Patuk-Nglanggeran.Jarak tempuh dari Yogyakarta kota menuju Gunung Api Purba ini sekitar 1,5 jam. Perjalanan sangat nyaman karena selain jalan yang sudah baik dan beraspal sampai lokasi (Nglanggeran) kita juga bisa melihat pemandangan alam yang indah di bukit Patuk.
Sampai di lokasi Gunung Api Purba Nglanggeran kami langsung bergegas memarkir kendaraan dan membeli tiket masuk karena tidak tahan lagi ingin sampai ke puncak (dalam hati belum ke puncak aja pemandanganya sudah WoW apalagi jika sudah sampai pasti keren). Akhirnya tiket terbeli juga untuk wisatawan Nusantara harga perorang yang berkunjung pada siang hari Rp5000 dan pada malam hari Rp7000. Parkir sepeda motor permotor Rp2000. Pertanyaan muncul ketika membeli tiket ada karcis untuk malam hari, berarti ini 24 jam? nggak tahulah mungkin itu adalah tiket masuk untuk wisatawan yang ingin melihat sunset di Gunung Api Purba ini.
Sebelum naik ke puncak karena diperkirakan waktu untuk sampai ke puncak sekitar 1 jam, maka kami mencari toilet untuk buang air karena di atas nanti kita tidak akan menjumpai toilet dan sebagai rasa cinta terhadap lingkungan karena tidak buang air sembarangan, hehe...Waktu saat itu menunjukan pukul 11.00 WIB, dan kami pun bergegas naik keatas, o iya jangan lupa sebelum naik persiapkan air minum karena medan yang menanjak dan kita harus jalan kaki maka tenaga kita banyak terkuras.

Setelah seperempat jam berjalan tiba-tiba kami kaget dengan lorong yang panjang dan untuk melewatinya harus satu orang satu, Subhanallah, lorong ini kanan kirinya adalah bebatuan besar dan diantara lorong terdapat batu besar yang tersangkut di atas lorong yang semakin menguji adrenalin kami karena kita melewati batu besar persis dibawah kita. Akhirnya lima menit kemudian kami tiba di Pos satu, Wow pemandangannya keren sekali dan di pos ini terdapat gazebo untuk beristirahat.
untuk melewati puncak nglanggeran kita melewati Lima Pos, dan setiap pos sudah terdapat gazebo tetapi sayang gazebo ini kotor akibat ulah tangan manusia yang corat-coret tembok gazebo. Langsung saja ke Pos paling puncak yaitu pos lima, dari perjalanan menuju pos ini banyak rintangan yang harus terselesaikan namun tetap semangat kita pasti bisa mengalahkanya.


Jalur - jalur pendakian di Gunung Api Purba ini cukup membuat jantung kita berdebar pasalnya selain kita juga harus berjalan di lorong yang sempit, naik menggunakan tangga dari kayu dan melewati jalur yang masih berbatu tetapi semua itu akan dibayar dengan keelokan sampai puncak. Yang dinanti-nanti akhirnya tiba puncak gunung api purba, di puncaknya ini kita seperti berada di atas tanah lapang yang luas tetapi bedanya hanya di puncak gunung ini kontour tanahnya masih berbatuan dan tajem-tajem. 


Plang sudah kelihatan dan untuk menuju puncak dari Gunung Api Purba Nglanggeran ini kami harus melewati satu rintangan lagi, yaitu naik tanggga yang terbuat dari kayu. Hati-hati saat naik tangga ini karena licin dan tetap fokus, ganbatte !

Teman saya Bang Chandra sedang mencoba menaiki anak tangga dari kayu untuk menuju ke puncak Gunung Api Nglanggeran. Tanpa mengenakan sepatu/sandal karena memang lunyu (lunyu = licin, bahasa Indonesia). O iya di puncak tidak ada gazebo lagi hanya seperti lapangan bebatuan yang tajem-tajem. Hati-hati pada saat mengambil langkah bisa saja telapak kaki anda perih karna menahan rasa sakit dari kontur batu disana yang tajem tadi. Selain itu ada yang unik di Gunung Api Purba dan tidak saya jumpai di tempat lain, yaitu tulisan-tulisan tangan yang memberi semangat untuk melangkah dan ajakan-ajakan untuk membuang sampah pada tempanya. Uniknya lagi tulisan yang ada di Kawasan Gunung Api Purba ini dibuat dengan tangan asli lho, meskipun langsung dengan tangan hasilnya tetap bagus dan kreatif-kreatif. salutt buat seniman nya.