Ads

Tuesday, 3 June 2014

Catatan singkat perjalanan ke Banyuwangi (The Sunrise Of Java)



Trip ke Taman Nasional Baluran dan Pulau Merah

Kereta api Sri Tanjung Lempuyangan-Banyuwangi Baru


Langsung aja ga pake lama, setelah seminggu sebelumnya beli tiket di Stasiun Lempuyangan akhirnya pagi itu terlaksana juga naik kereta untuk yang kedua kalinya (bagi saya hehe). Sekitar jam 07.10 WIB saya sudah nyampe ke Stasiun Lempuyangan (takut ketinggalan kereta) karena di dalam jadwal keretanya tertera jam 07.45 WIB mulai berangkat, sampai di Stasiun ternyata sudah ada temen yang sudah mendahului saya Si Juminten dan Cici (panggilan akrabnya). Selang tidak lama temen yang lain juga mulai berdatangan. Jumlah rombongan yang ikut trip ini adalah sepuluh orang, jam sudah menunjukan pukul 07.30 WIB dan yang baru datang ada tujuh orang, tinggal sisa dua orang lagi. Ya udah tunggu aja mungkin lagi otw”, kata salah satu dari teman saya. Menit demi menit sudah berlalu tinggal 10 menit lagi kereta mau berangkat dan kedua orang teman saya belum juga kelihatan hidungnya, semua rombongan mulai panik benar saja hla wong yang belum datang itu yang bawa tiket, dan temen-temen mengira mungkin ini cuma iseng agar heboh aja, e hla sudah di sms, di telpon segala macem juga tidak ada respon, wah gagal nih ke Banyuwangi (dalam hati).    Ayo-ayo pada kemana sih kog belum dateng-dateng, hmmm (mulai gelisah tidak karuan).
Stasiun yang dilewati Sri Tanjung
Kereta sudah mulai terdengar suara mesinya dan announcement-pun sudah di ucapkan, tapi dua orang yang bawa tiket ini belum juga nongol, walah-walah kepie iki (waduh-waduh gimana nie). Ya sudah akhirnya rombongan yang sudah tiba di stasiun tadi mencoba untuk memberi kabar kepada petugas bagian tiket bahwa tiket kita di pegang sama teman yang belum datang sampai sekarang dan misalkan dibuatkan tiket lagi gimana Mbak, bisa gak ya “ tanya salah satu teman saya. Petugas menjawab “ mohon maaf tiket cuma bisa dicetak satu kali saja, ditunggu aja temannya mungkin lagi dalam perjalanan. Tinggal kurang dari lima menit dengan wajah yang biasa-biasa aja akhirnya yang bawa tiket datang, sambil mengambil tiket-tiket yang ada di tas si Rani yang bawa tiket dadi bilang “ Sorry yo cah tangiku kawanen hehe. Balik ke rombongan tadi, akhirnya tinggal satu orang lagi yang belum datang sambil menyiapkan KTP untuk pemeriksaan tiket dan beberapa orang sudah mulai memasuki ruang tunggu mau naik kereta, akhirnya si Dendy dengan cepatnya menghampiri rombongan. Alhamduillah akhirnya semua bisa ikut juga trip kali ini. Langsung saja semua rombongan naik ke atas kereta dan mulai menikmati suasana kereta kelas ekonomi yang full AC Sri Tanjung, cukup murah juga dengan Rp50.000,- kita sudah sampai ke Stasiun Banyuwangi Baru (Stasiun pemberhentian paling akhir dari kereta Sri tanjung) . Stasiun Banyuwangi Baru merupakan stasiun paling ujung timur di Pulau Jawa dan berdekatan pula dengan Pelabuhan Ketapang (pelabuhan penyeberangan dari P. Jawa ke P. Bali).

Makan Bersama di depan Pelabuhan Ketapang
Berangkat jam 07.45 WIB dan akhirnya sampai di Banyuwangi jam 20.45 WIB perjalanan yang cukup membuat perut ini lapar meskipun dari rumah sudah dipersiapkan amunisi yang cukup banyak. Setelah sampai di banyuwangi kemudian rombongan kami berencana untuk istirahat dan mencari tempat makan di sekitar pelabuhan. Dalam perjalanan mencari sesuap nasi hhehe, ketemu dengan seorang bapak-bapak yang menawarkan jasa angkot.
Mau kemana mbak mas” tanya Bapak tersebut kepada kita. Mau cari makan pak”, kata Dendy. Masih ngotot juga si bapak yang menawarkan angkot tadi, mau kemana saya antar “ kata bapak sopir angkot. Akhirnya ya sudah disini mulai ada tawar menawar harga untuk perjalanan dari stasiun ke pos Taman Nasional Baluran, dengan kejelian dan kegigihan penawaran harga akhirnya diputuskan sewa angkot dari Stasiun ke Baluran Rp200.000,- dibagi sepuluh orang jadi per-orang kena Rp20.000,-.

Didalam angkot
Urusan transpot selesai, kemudian untuk makan setelah berunding dengan bapak sopir angkot Pak Dadang, akhirnya beliau bersedia menunggu rombongan untuk cari makan, dan makan sampai selesai. Kemudian hampir dua ratus meter berjalan kaki menuju pelabuhan akhirnya diputuskan makan nasi goreng (masakan khas Indonesia banget) ya pada waktu itu per porsi Rp7000,-. Makan selesai dan cuss menuju Taman Nasional Baluran, waktu tempuhnya kira-kira satu setengah jam dari Banyuwangi. Sampai di TN baluran sekitar jam 22.30 WIB dan menuju pos untuk  mencari penginapan di TN Baluran karena sebelumnya denger-denger di TN Baluran ada tempat untuk penginapan gratis ya kita coba tanya, dan hasilnya nol. Kata Petugas “dulu memang dibolehkan tapi sekarang sudah tidak boleh untuk menginap di sana”. Karena bingung mau menginap dimana akhirnya solusi yang diambil satu-satunya tidur di masjid terdekat atau polsek karena di sekitar TN Baluran ada polsek juga tapi lupa namanya polsek mana.

masjid
 Setelah berbicara dengan petugas jaga pos TN Baluran dan bertanya apakah ada masjid terdekat untuk dijadikan tempat untuk bisa tidur. Kemudian si penjaga pos tersebut bilang ada dan kalo mau disekitar masjid tersebut ada homestay juga. Sampai di masjid yang kita cari, jaraknya 100m dari pos jaga, malam itu sudah agak larut sekitar pukul 23.00 WIB sampai di masjid. Kata petugas jaga pos TN Baluran tadi jika kepepetnya mau tidur di emperan masjid silahkan terlebih dahulu izin dengan takmir masjidnya, rumahnya di kiri masjidnya persis.

Homestay
Singkat cerita, kamipun menemukan masjid tersebut dan istirahat sambil diteruskan sholat. Sekitar jam setengah dua belas tiba-tiba kami dihampiri warga sekitar, beliau mengarahkan kepada kami tentang perjalanan selama empat hari tersebut. Kemudian Bapak tersebut yang ternyata memiliki homestay juga mengajak untuk menginap di homestaynya. Akhirnya setelah melakukan perundingan yang cukup singkat kami pun bergegas menuju homestay.


Homestay di sekitar TN baluran yang kita tempati harganya Rp110.000,-/orang itu kita dapat 2 malam menginap dan dapat 3 kali makan di homestay. Homestay milik Pak Iman tersebut memiliki tiga kamar tidur dan satu kamar mandi. yaa cukuplah untuk bermalam 10 orang waktu itu, tapi dicukup cukupin haha.

Pintu Gerbang Baluran
Oke, perjalanan pertama yaitu ke Taman Nasional Baluran sebelum berangkat kita sarapan terlebih dahulu. Jam sudah menunjukan pukul delapan pagi dan kendaraan untuk membawa kita menelusuri TN Baluran pun sudah siap siaga. Pada waktu itu kita menyewa satu colt pick up perorang kita cukup bayar Rp30.000,- pp. Setelah selesai sarapan dan perutpun kenyang kita langsung cabut dari homestay dan menuju Taman Nasional Baluran. O ya tiket masuk taman nasional ini cukup murah hanya Rp3000,-/orang karna kita masih pelajar. untuk yang dewasa Rp5.000,- terus yang wisatawan mancanegara Rp150.000,-.

Perjalanan yang kita tempuh sebelum singgah di Pantai Bama (pantai yang ada di Taman Nasional Baluran) sekitar dua jam. Selama itu pula kami disuguhi pemandangan yang eksotis seperti tidak ada ditempat lain banyak burung, banteng, rusa dan suasana di Savana Bekol benar-benar seperti suasanan savana Afrika, maka tidak heran jika di Taman nasional ini memiliki sebutan Afrikanya Indonesia ya di Taman Nasional Baluran.


Daftar Harga Tiket


Savana Bekol


Di Savana bekol ini kita bisa melihat pohon yang tumbuh tetapi disekelilingnya hanya ada rumput dan pemandangan Gunung Baluran yang menawan.


Savana Bekol
Disini Anda juga harus berhati-hati karena ada sekelompok kawanan monyet yang liar dan kadang-kadang langsung menyerobot barang bawaan kita. Tipsnya, selalu awasi barang kita jangan sampai kita tinggal begitu saja dan kalo bisa jangan mengeluarkan makanan atau suara-suara seperti plastik bungkus makanan karena hal ini dapat mengundang monyet untuk melancarkan aksinya.

Setelah puas berfoto-foto di Savana Bekol perjalanan selanjutnya adalah ke Pantai Bama.Pantai Bama ini merupakan pantai yang agak landai dan menariknya disana banyak sekali kera ekor panjang yang menghuni pantai ini.

Pantai Bama
Fasilitas di pantai ini juga cukup mendukung seperti mushala, km mandi, kantin dan ada perahu boat juga. Disekitar pantai kita juga dapat menikmati hutan mangrove yang tumbuh di bibir pantai. Pantai ini merupakan satu-satunya pantai yang ada di Taman Nasional Baluran, suasananya yang tenang dan damai disertai angin sepoy-sepoy menjadikan pantai ini cocok sekali untuk menikmati liburan kamu.

Setelah hari mulai meredupkan cahayanya, kita akhirnya menyudahi perjalanan di Taman nasional ini dan destinasi terakhir di Taman Nasional ini adalah pergi ke lokasi pengamatan satwa.




Di atas boat Pantai Bama
Sebelum ke lokasi pengamatan satwa, alangkah baiknya kita mengabadikan momen ketika berada diatas boat keren di Pantai Bama dan taraa.... sekali jepret aja dengan timer di kamera sudah cukup untuk mengabadikan suasana itu.

Lokasi pengamatan satwa sebenarnya rutenya sudah kami lewati di sekitar Savana Bekol, namun karena biasanya hewan-hewan yang ada di Taman Nasional ini kembali ke tempat istirahatnya pada waktu sore hari jadi kami memilih untuk melakukan pengamatan pada sorenya. Setelah melewati beberapa anak tangga, cukup menguras tenaga juga akhirnya sampai ke lokasi pengamatan satwa. Emang bener disini adalah tempat yang cocok untuk melakukan pengamatan karena kita bisa melihat dari segala arah untuk mengamati aktivitas binatang-binatang yang ada di Taman Nasional ini.


Lokasi Pengamatan Satwa


Di tempat ini kita bisa melihat luasnya taman nasional dan satwa-satwa dari atas yang mulai beranjak menuju peristirahatanya.

Kecewa sekali, pada waktu tiba disini batrey kamera sudah habis alhasil gambar cuma dapet jepretan tangan terakhir. Padahal momen kembalinya binatang-binatang ke tempat istirahatnya belum tertangkap yah gimana lagi, mungkin kalo ada rejeki yah bolehlah main-main kesini lag (ngga bosen nih :D)
 
Setelah dari lokasi pengamatan, karena hari sudah mau gelap kami bergegas untuk kembali ke homestay dan mempersiapkan tenaga lagi untuk tour ke Pulau Merah keesokan harinya.

Sebelum meninggalkan homestay



Hari kedua, setelah sarapan pagi sekitar jam delapan pagi kita menuju destinasi yang ada di Banyuwangi yaitu Pulau Merah. Ternyata pada waktu itu disana bersamaan dengan diadaknya event surving yang berskala internasional.


berangkat menuju Pulau Merah

Akomodasi yang kita bawa untuk menuju kesana adalah kita menyewa sebuah angkot yang notabene angkot tadi adalah angkot yang kita tumpangi dari stasiun Banyuwangi Baru menuju pintu masuk TN Baluran.


Yaa Pak Dadang itu nama driver angkotnya tadi. Sungguh perjalanan yang membawa kocak temen-temen satu kelas pada waktu itu, pasalnya Pak Dadang dengan asyiknya mengemudikan Mercedeznya dengan gaya yang unik.

Beliau selalu saja tidak mau mengalah dengan kendaraan di depanya walaupun dari segi fisik Mercedez miliknya jauh lebih termakan usia dibandingkan dengan kendaraan yang Ia salip dengan tidak lupa berkali-kali membunyikan klakson nya. tet tet tetetetetetetet minggir semua akhirnya yang di depan.


Pulau Merah
Cukup banyak wisatawan pada waktu itu yang datang dan menyaksikan perhelatan internasional tersebut. Berangkat jam delapan dan sampai di Pulau Merah sekitar jam setengah sebelas lebih.

Perjalanan menuju ke Pulau Merah tersebut perorang kena biaya Rp65.000,- pp dan pulangnya kita meminta di turunkan di sekitar pelabuhan karena kita mau ke Pulau Bali untuk sekedar menginjakan kakinya di Pulau tersebut dan sekaligus makan malam dan mandi. hehehe


Sore itu kemudian langsung membeli tiket menuju ke Pulau Bali dengan harga tiketnya Rp6.500,-/orang.
Pembelian tiket

Kala itu cukup sepi loket tiketnya dan setelah dapat kartu untuk menyeberang kami berangkat menuju ke kapal yang akan mengangkut rombongan kami.

Sambil menunggu kapal bersandar kita ngopi-ngopi dahulu dan sesekali melihat pemandangan kapal yang sedang bongkar muat barang.



Setelah selesai bongkar muat akhirnya kapal pun bisa dinaiki, dan kita beranjak naik ke kapal. Kala itu cuaca sangat cerah dan hasilnya dapat gambar seperti itu. Pemandangan laut dengan latar belakang gunung yang berdiri tegak nan gagah perkasa, disertai objeknya yaitu bendera sang merah putih sungguh menggambarkan Indonesia yang sangat kaya alam dan budayanya.

Sunset Gunung
Entah kenapa karena timming yang pas atau apa diatas kapal kita bisa melihat langit yang indah sore itu.

Memang keindahan Indonesia tidak akan pernah habis, pesonanya selalu menghipnotis orang-orang disekelilingnya. Namun, jika kita tidak menjaganya tidak mungkin tidak kekayaan alam yang luar biasa ini dimiliki oleh negara lain.


Suasana di Dek tengah Kapal

Sekitar satu jam sudah berlalu kita sampai di Pulau Bali dan lokasi pertama yang kita cari adalah warung makan. Setelah sekitar 600m kita dapat warung makan tersebut dengan menu ayam betutu dengan porsi yang cukup yang dihargai Rp17.000,- per porsi sudah cukup mengenyangkan perut ini.


Kemudian lokasi kedua yang kita cari adalah masjid untuk sholat dan membersihkan diri (mandi maksudnya). Akhirnya nemu juga masjid yang gede tapi kelihatanya yang bagian atas belum selesai di bangun. Akhirnya kita beristirahat di masjid itu. Malamnya sekitar jam sebelas malam kita beranjak meninggalkan Pulau Dewata Bali dan pergi ke Stasiun Banyuwangi Baru untuk perjalanan pulang keesokan harinya.


sampai di Pelabuhan Ketapang
Sampai di Pelabuhan Ketapang dan dengan berjalan kaki sekitar dua ratus meter kita sampai ke Stasiun Banyuwangi Baru. Di Stasiun ini ternyata juga sudah ada orang yang menunggu Sri Tanjung (kereta yang akan kita naiki) dihidupkan. Tanpa pikir panjang namanya juga backpacker kita tidur sejenak di emperan Stasiun sambil menunggu keberangkatan kereta untuk menuju ke Jogjakarta.


Sepertinya hari mulai pagi dan tidak terasa perut sudah keroncongan lagi, di depan Stasiun sepertinya ada orang jualan nasi bungkus. Langsung capcus beli nasi bungkus itu harga Rp5000,-/bungkus menunya ada telur dan ikan. Perut sudah kenyang  dan keretapun sudah meniupkan bunyinya tanda kereta mau diberangkatkan waduhhh,



Catatan singkat ini semoga berguna bagi teman-teman yang ingin atau sudah berencana pergi berwisata ke Banyuwangi, Selamat Berwisata....:D

Savana Bekol. gambar diambil oleh Rizki Abdirahman

Pantai Pulau Merah. gambar diambil oleh Rizki Abdirahman

Savana Bekol. gambar diambil oleh Rizki Abdirahman









Tuesday, 6 May 2014

koleksi kain

Kali ini saya mau share koleksi kain yang ada/ stok yang ada per tanggal 6 mei 2014






Saturday, 18 January 2014

Mahasiswa Pariwisata UGM

Progam Studi Pariwisata  UGM

     Hai kamu, kali ini saya mau menjelaskan sedikit tentang prodi pariwisata. Sebelum menjelaskan lebih dalam alangkah baiknya saya jelaskan setahu saya tentang Progam Studi Pariwisata di Universitas Gadjah Mada. Prodi Pariwisata/Progam Studi Pariwisata pertama kalinya hanya ada di Diploma, dan prodi ini sudah ada sejak tahun 1994 sampai sekarang. Nama progam studi nya di jenjang diploma adalah Diploma III Kepariwisataan UGM. Dahulu prodi kepariwisataan ini masuk Fakultas Ilmu Budaya dan sejak tahun 2010/2011 atas kebijakan rektor semua prodi diploma UGM dimasukan jadi satu kedalam Fakultas Sekolah Vokasi UGM.


    Kemudian pada tahun 2010, atas kegigihan dari Prof. Marsono, s.u. akhirnya di Fakultas Ilmu Budaya berdiri Progam Studi Pariwisata untuk jenjang S1. Dengan adanya prodi ini maka mahasiswa-mahasiswi dari DIII Kepariwisataan berharap bisa melanjutkan studinya ke Strata satu. Akhirnya mimpi itu terjawab pada tahun 2011/2012, yaitu membuka progam studi alih jenis untuk DIII ke S1. Kenapa Alih Jenis? Karena ilmu yang didapatkan merupakan satu jenis yaitu tentang pariwisata hanya materi ilmu saja yang berbeda.





   Kita tahu sendiri Indonesia memiliki potensi besar di bidang pariwisata, sumberdaya-sumberdaya alam yang melimpah, belasan ribu pulau, dan ribuan suku bangsa dengan berbagai macam ragam bahasa yang dimiliki Indonesia merupakan aset yang tidak dapat ternilai harganya. Maka dari itu kita seharusnya bisa menjaga, melestarikan dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya terutama untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.



  Pada saat menjadi mahasiswa Diploma III Kepariwisataan UGM banyak sekali kegiatan yang dilakukan di progam studi ini misalnya :
  • Ikut melakukan kegiatan bersih Candi Borobudur setelah terjadi erupsi Gn. Merapi tahun 2010
  • Kuliah lapangan ke Bali, Semarang, Malang, Gunung Kidul, dll
  • Kuliah lapangan ke Desa Wisata di Yogyakarta
  •  Kuliah lapangan ke Hotel dll 

Untuk menunjang bahasa, di Diploma III Kepariwisataan ada mata kuliah tentang bahasa ada bhs. Arab, bhs. Mandarin, bhs. Spanyol, bhs. Belanda dan bhs. Korea.


Kuliah lapangan ke Bali bersama MASSATOURS Tour and Travel yang di tangani oleh Mas Acmad Latief Saputra (Mas Puput)
     
     
     
     
     
Kuliah lapangan di Dieng, disana temen-temen meneliti tentang homestay, pemandu wisata, objek wisata, dan produk olahan warga.









 




       

Pantai Gua Cemara, Bantul Yogyakarta

Sobat Travelers, masih berjumpa lagi dengan coretan-coretan saya kali ini. Sebelumnya sobat tahu nggak tentang pantai-pantai di Yogyakarta? 

Mesti Pada banyak yang komen Parangtritis, Indrayanti, Baron, Krakal dan lain-lain. Padahal pantai-di Yogyakarta banyak lho, terutama di Gunung Kidul dan Bantul. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saaya ke Pantai yang ada di Bantul tetapi bukan Pantai Parangtritis lho ya, kali ini saya mau bercerita tentang pantai Gua Cemara. Ya Pantai Gua Cemara, apa yang anda bayangkan tentang pantai ini? Pantai yang bergoa, pantai yang ada cemara di dalam goa, masa ada pantai di dalam goa???



Nah, kalo belum tahu nih aku kasih tahu. Pnatai Gua Cemara adalah pantai yang terletak di Kabupaten Bantul. Dari namanya yang agak aneh Gua Cemara, maksud pemberian nama ini menurut cerita warga sekitar adalah pantai tetapi untuk menuju ke Pantai ini Seseorang harus melewati barisan-barisan cemara yang berjejer sehingga membentuk seperti lorong masuk gua gitu, jadi deh dinamakan Pantai Gua Cemara dan setelah saya teliti langsung kebenaran itupun terungkap yakni memang jalan mau menuju ke pantai ini melewati banyak tanaman cemara yang ditanam rapi berbaris-berbaris.



Keunikan
Selain ada tanaman cemara yang banyak dan ditanam secara rapi, di pantai ini suasananya sejuk lho, karena banyak tanaman itu tadi. Di Pantai Gua Cemara ini pantainya tidak seperti Pantai Parangtritis ya, di Pantai Gua Cemara bibir pantai agak vertikal sehingga sedikit berbahaya untuk wisatawan. Pantai ini merupakan jajaran Pantai yang lokasinya tidak jauh dari Pantai Samas.


Banyak kegitan yang bisa anda lakukan di pantai ini karena disini juga terdapat Joglo/pendopo untuk umum jadi yang akan mengadakan event disini pengelola sudah menyiapkan lokasinya.

 pendopo yang bisa disewa oleh pengunjung jika akan mengadakan event, selain pendopo ada juga fasilitas untuk offroad menggunakan ATV dengan rute mengelilingi kawasan pantai gua cemara yang sejuk ini.


                    Untuk anak-anak yang ingin berenang disana juga disediakan kolam renang kecil.


Pantai ini sangat sejuk untuk digunakan bersantai bersama keluarga untuk mengisi liburan terlihat dari pohon cemara yang ditanam rapi.



Wahana yang ada di Pantai ini meliputi bermain ATV, arena out bond, gazebo untuk bersantai bersama keluarga dengan angin yang sepoi-sepoi khas pantai. Di Pantai Gua Cemara ini kita juga gak perlu khawatir tentang oleh-oleh atau cindera mata yang unik dan khas, di Pantai ini juga kita bisa membeli oleh-oleh seperti Kerajinan dari Kerang/pasir (kaca pengilon, gelang, kalung dll) produk olahan lokal dari sayuran.


Tiket Masuk
Perorang Rp4000,- parkir Mobil 5000,- tiket ini saya peroleh di tanggal

Akses

Dari Kota Jogja-Ambil Arah menuju Kota Bantul-Lurus terus sampai mentok-Pantai   

Friday, 3 January 2014

Kawasan Ekowisata Gunung Api Nglanggeran Gunung Kidul

Menelusuri jejak Gunung Api Purba Nglanggeran


Selamat berjumpa lagi sobat ku semua, kali ini saya mau menulis artikel tentang jejak-jejak Gunung api Purba Nglanggeran.

Pertama kali saya mengucapkan selamat tahun baru 2014 buat kalian semua, semoga sukses kedepanya, amin.

Langsung aja kita mulai ya, Gunung Api purba atau Gunnung Api Nglanggeran merupakan gunung berapi pada jaman dahulu dan sekarang gunung api ini tidak aktif lagi sejak kurang lebih ratusan tahun yang lalu. Gunung ini terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul yang masih berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kenapa disebut Gunung Api Nglanggeran yaitu karena letak Gunung ini yang berada di Desa Nglanggeran.

gambar pintu masuk menuju objek


gambar pendopo



Untuk menuju lokasi tidaklah sulit kawan, kalau dari JOGJAKARTA kita bisa mengambil rute dari terminal Giwangan kemudian cari bus yang menuju ke arah Wonosari setelah itu kita turun di kecamatan Patuk dan dari patuk kita naik ojek dari situ. Dari terminal Giwangan menuju Patuk kira kira 1,5 jam dan dari Patuk ke Gunung Api Purba kira kira sekitar 20an menit.

Perjalanan saya dimulai dari Klaten, karena saya adalah orang Klaten (bangga) haha... Sebelumnya saya kasih tahu tujuan pertama kali saya datang ke Gunung Api Purba ini adalah untuk mencari informasi mengenai apa yang ada di Gunung Api Purba sebagai salah satu objek wisata di Gunung Kidul yang mengusung konsep wisata ekowisata (ecotourism). Pada hari itu Kamis, 28 November 2013 saya dan teman saya pergi ke Gunung Api Purba ini dengan alat transportasi sepeda motor. Rute yang saya lewati adalah Klaten-Prambanan-Piyungan-Patuk-Nglanggeran. Waktu tempuh saya dari Klaten lewat rute ini kira-kira 1,5 jam. Namun, jika anda pergi di musim liburan high season bersiaplah untuk melawan kemacetan terutama di jalan-jalan kota seperti bandara Adisujipto, Malioboro, Keraton, dan Candi Prambanan.

gambar kondisi jalan dan papan penunjuk arah

Untuk biaya masuk ke objek wisata ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran ini kami dikenakan tarif sebesar Rp5000,-/pax dan parkir sepeda motor Rp2000,-/motor. Tarif sebesar Rp5000,- /pax merupakan tarif masuk objek pada siang hari, dan pada malam hari tiket masuknya sebesar Rp7000,-/pax. Kaget? Ya pertanyaan muncul ketika kami ingin mmembeli tiket di pos penjagaan retribusi disana memang ada dua tiket masuk pertama adalah siang hari dan kedua, adalah malam hari. 


gambar tiket masuk
Menurut Mas Agus beliau adalah salah satu pemandu yang sekaligus anggota dari kelompok taruna desa Nglanggeran yang ikut berpartisipasi dalam pengelolaan objek wisata ini, menuturkan bahwa selain siang hari banyak wisatawan yang datang kesini pada malam hari. Mereka datang kesini untuk camping untuk tujuan makrab ataupun pribadi untuk mengambil moment sunset/sunrise, tuturnya.






Perlu anda ketahui bahwa Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan kawasan ekowisata, jadi konsep ekowisata merupakan sebuah konsep wisata yang didalam kegiatan utamanya bertujuan untuk kelestarian lingkungan. Menurut Fandeli (1995), terdapat tiga dimensi didalam sebuah objek ekowisata yaitu dimensi konservasi, dimensi pendidikan, dan dimensi kerakyatan.

Jalur pendakian

Dimensi Konservasi maksudnya adalah sebuah objek ekowisata harus mampu menjaga dan melestarikan alam objek yang ada didalamnya. Jadi dengan adanya upaya kelestarian alam ini diharapkan sebuah ekodestinasi sampai pada suatu saat nanti tidak akan mengalami kerusakan alam terutama yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia. Dimensi Pendidikan yang dimaksud disini yaitu sebuah objek ekodestinasi memiliki kegunaan sebagai tempat untuk melakukan sebuah penelitian. Di Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan objek yang banyak diteliti oleh para akademisi untuk keperluan akademis misalnya dari arkeologi, geografi, dll. Kemudian dimensi Kerakyatan, yaitu memberdayakan rakyat disekitar atau masyarakat disekitar objek ini yaitu pada prinsipnya didalam pengelolaan, perencanaan, dan aktualisasinya dilakukan oleh masyarakat sekitar itu sendiri mulai dari pemuda-pemudi karang taruna desa, kelompok sadar wisata desa itu dan kelompok ibu-ibu pkk.

gambar melewati tangga kayu


Pendakian
Untuk mencapai puncak Gunung Api Purba yang eksotis nan cantik, kita melewati beberapa pos pendakian sepertinya ada lima pos pendakian. Kelima pos tersebut memiliki kondisi medan/jalur yang exstreem. Tetapi menurut saya jalur yang paling exstreem adalah jalur pendakian pos pertama, karena dijalur ini kita harus berjalan diantara apitan dua gunung yang besar dan jaraknya sangat sempit hanya dapat dilewati satu orang dan harus antri.
lorong sumpitan
gambar tulisan di objek
Untuk menuju puncak waktu yang dibutuhkan kira-kira 1,5 jam itu jika tanpa istirahat sob, artinya Jalan terus. Tapi waktu yang panjang itu sepertinya tidak akan terasa ketika sudah sampai di puncsk yang pemandanganya WOW banget Sob. Coba aja datang dan buktikan sendiri.

gambar mushola
gambar homestay

gambar wahana outbond

Fasilitas yang ada di Gunung Api Purba
-          - Pendopo (bisa menyewa jika akan dibutuhkan)
-          - Toilet dan Kamar mandi
-          - Homestay
-          - Mushola
-          - Tempat parkir
-          - Gazebo di pos-pos pendakian

gambar gazebo di Gunung Api Purba

Akhirnya sekian yang dapat saya ceritakan, kurang lebih saya mohon maaf . Terimakasih atas kunjunganya

gambar di puncak

gambar ane di puncak

      PEMBACA YANG BAIK SEHARUSNYA TAHU ATURAN MENG-COPY DATA DARI ORANG LAIN YAITU MENYERTAKAN ALAMAT WEB INI SECARA LENGKAP DAN WAKTU KETIKA MENGUNDUHNYA. TERIMA KASIH