Ads

Wednesday, 14 December 2016

Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat



Sejarah kampung ini menurut ketua adat atau yang disebut dengan istilah pakuncen, masih belum pasti asal usul berdirinya. Namun, menurut pakuncen asal usul Kampung Naga itu mengacu kepada tiga hal. Pertama, pada tahun 1956 DI TII pimpinan Kartosuwiryo yang ingin menjadikan negara islam. Pada masa ini kampung-kampung yang tidak mengikuti DI TII di bakar termasuk Kampung Naga. Kedua, di abad 14 ada petilasan tempat Sholat dari batu yang tertata, jadi menurut mereka Islam lebih dahulu datang dan sudah membentuk kampung di abad itu. Ketiga, adalah ada lumbung padi dan bekas pembakaran rumah, akan tetapi sudah di bangun kembali yang sekarang masih ada.
Kampung Naga, berasal dari kata NaGawi. Na artinya ‘di’ dan Gawi artinya tebing. Jadi dahulu kampung ini di sebut dengan Kampung Nagawi yang artinya bukan kampung yang berada di tebing, tetapi kampung yang dikelilingi tebing. Kampung ini terletak di desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Konsep Ekowisata Menurut Fandeli



Menurut Fandeli (2000) dalam bukunya Pengusahaan Ekowisata penerbit Fakultas Kehutanan UGM, Pustaka Pelajar dan Unit Konservasi Alam DIY, sebuah kegiatan wisata yang dapat dikategorikan sebagai ekowisata harus memenuhi tiga kriteria :
1.      Konservasi
Artinya kegiatan wisata yang dikerjakan membantu usaha pelestarian alam dengan memberikan dampak negatif yang minim.
2.      Pendidikan
Wisatawan yang mengikuti perjalanan akan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang ekosisitem keunikan biologi, dan kehidupan sosial dikawasan yang dikunjungi sehingga ada kesadaran untuk melestarikan alam.
3.      Kerakyatan
Pelaku utama dari penyelenggaraan kegiatan wisata ini adalah masyarakat setempat.

Pengertian Wisatawan



Menurut UN. Convention Concerning Customs Facilites For Touring (1954) Wisatawan adalah setiap orang yang datang disebuah Negara karena alas an yang sah kecuali untuk berimigrasi dan yang tinggal setidak-tidaknya 24 Jam dan selama-lamanya 6 Bulan dalam tahun yang sama.

Dalam pengertian ini wisatawan dibedakan berdasarkan waktu dan tujuan yang disebut wisatawan adalah orang-orang yang berkunjung setidaknya 24 dan yang dating berdasarakan motivasi Mengisi waktu senggang seperti bersenang, berlibur, untuk kesehatan, studi, keperluan agama, dan olahraga, serta bisnis, keluarga, peurtusan, dan pertemuan-pertemuan.

Sedangkan ekskurionis adalah pengunjung yang hanya tinggal sehari di Negara yang dikunjungi tanpa bermalam. Pengertian ini paling banyak digunakan karena pembedanya tegas sehingga mudah dipahami antara pengunjung yang bisa disebut wisatawan, dan pengunjung yang hanya ekskurisionis saja.

B. WISATAWAN (PENGUNJUNG)
Berdasarkan definisi yang dikeluarkan oleh The Committee of Statistical Experts of the league of Nations tahun 1937 bahwa

- Wisatawan : orang yang mengunjungi suatu negara selain negara dimana dia tinggal
- Yang berikut ini adalah orang yang biasa dianggap sebagai wisatawan :
a. orang – orang yang bepergian untuk tujuan bersenang – senang, alasan keluarga, untuk tujuan kesehatan, dan lain – lain.
b. Orang – orang yang bepergian untuk mengadakan pertemuan atau mewakili kedudukan sebagai diplomat, misi keagamaan, orang – orang yang bepergian dengan alasan dagang.
c. Orang – orang yang singgah dalam pelayaran lautnya, sekalipun tinggal kurang dari 24 jam.
Berdasarkan pendapat F.W. Ogilvie tentang pariwisata, wisatawan adalah “semua orang yang memenuhi syarat yaitu pertama bahwa mereka meninggalkan rumah kediaman mereka untuk jangka waktu kurang dari satu tahun, kedua bahwa sementara mereka bepergian mereka mngeluarkan uang di tempat yang mereka kunjungi tanpa dengan maksud mencari nafkah di tempat tersebut.”
Batasan ini diberi variasi oleh A.J. Norwal yang mengatakan bahwa wisataan adalah seseorang yang memasuki wilayah negeri asing dengan maksud tujuan apapun asal bukan untuk tinggal permanen atau untuk usaha – usaha yang teratur melintasi perbatasan, dan yang mengeluarkan uangnya di negri yang dikunjungi, uang mana diperolehnya bukan di negri tersebut melainkan di negri lain.

Pengertian Wisatawan Menurut Undang-Undang

Menurut Undang-undang no 10 thn 2009 tentang kepariwisataan disebutkan wisatawan adalah orang yang melakukan wisata. Sedangkan Sihite (2000:49) pengertian wisatawan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Wisatawan nusantara adalah wisatawan dalam negri atau wisatwan domestik.
2. Wisatawan mancanegara adalah warga negara suatu negara yang mengadakan perjalanan wisata keluar lingkungan dari negaranya (memasuki negara lain).
Menurut IUOTO (International Union of Official Travel Organization), dalam Gamal Suwantoro (2009:4) menggunakan batasan mengenai wisatawan secara umum: pengunjung (visitor) yaitu setiap orang yang datang ke suatu negara atau tempat tinggal lain dan biasanya dengan maksud apapun kecuali untuk melakukan pekerjaan yang menerima upah. Jadi ada dua kategori mengenai sebutan pengunjung, yakni:
1. Wisatawan (tourist) adalah pengunjung yang tinggal sementara, sekurang-kurangnya 24 jam di suatu negara. Wisatawan dengan maksud perjalanan wisata dapat digolongkan menjadi :
a. Pesiar (leisure), untuk keperluan rekreasi, liburan, kesehatan, study, keagamaan, dan olahraga.
b. Hubungan (relationship), dagang, sanak saudara, kerabat, MICE, dsb.
2. Pelancong (ekscursionist) adlah pengunjung sementara yng tinggal dalam suatu negara yng dikunjungi dalam waktu kurang dari 24 jam.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa wisatawan adalah orang-orang yang melakukan kegiatan perjalanan dengan tujuan memperoleh kesenangan, tidak untuik bekerja, menetap, dan mencari nafkah.

Jenis-Jenis & Karakteristik Wisatawan



1. Wisatawan lokal (local tourist) yaitu wistawan yang melakukan perjalanan wisata ke daerah tujuan wisata yang berasal dari dalam negeri.
2. Wisatawan mancanegara (interntional tourist)yaitu,wisatawan yang mengadakan perjalanan ke daerah tujuan wisata yang bersal dari luar negeri.
3. Holiday tourist adalah wisatawan yang melakukan perjalanan ke daerah tujuan wisata dengan tujuan untuk bersenang-senang atau untuk berlibur.
4. Business tourist adalah wisatawan yang bpergian ke daerah tujuan wisata dengan tujuan untuk urusan dagang atau urusan profesi.
5. Common interest tourist adalah wisatawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata dengan tujuan khusus.seperti,studi ilmu pengetahuan, mengunjungi sanak keluarga atau untuk berobat dan lain-lain.
6. Individual tourist adalah wistawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata secara sendiri-sendiri.
7. Group tourist adalah wisatawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata secara bersam-sama atau berkelompok

Museum Batik Yogyakarta



SEJARAH

Museum ini terletak sebelah utara stasiun Lempuyangan atau sebelah barat Stadion Mandala Krida lebih tepatnya di Jalan Dr. Sutomo 13 A Yogyakarta. Museum ini didirikan pada tanggal 12 Mei 1979 didirikan atas prakasa bapak Hadi Nugroho, pemilik museum. Pengumpulan kain batik mula-mula dari kerabat, orang tua, eyang dan generasi Hadi sendiri yang berusaha batik dari tahun 1930. Museum ini dikelola oleh Hadi dan istrinya Dewi, museum ini adalah museum swasta (museum pribadi). Museum ini diresmikan oleh Kanwil P&K Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Museum ini pernah meraih rekor MURI atas karya ‘Sulaman Terbesar’, batik berukuran 90 x 400 cm2  pada tahun 2000, luas museum ini 400 m2 dan sekaligus dijadikan tempat tinggal pemiliknya.

KOLEKSI
Dari segi bangunan museum ini sangat sederhana tetapi begitu kita masuk kedalam musem banyak sekali kain-kain yang tersimpan, ini sangat menakjubkan. Di meja tempat pembelian tiket kiita disambut dengan ramah oleh pengelola museum ini, pengelola museum akan mendampingi kita untuk berkeliling dan menceritakan tentang filosofi setiap batik. Di musem ini terdapat1.200 koleksi perbatikan yang terdiri dari 500 lembar kain batik tulis, 560 batik cap,124 canting (alat pembatik), dan 35 wajan serta bahan pewarna, termasuk malam. Jenis-jenis batik yang ada di museum ini ialah batik  Lasem, indramayu,kedonguni, demak, pekalongan, banyumas, Cirebon, jogja, dan solo. Batik kuno dari tahun 1700 juga tersimpan rapi di museum ini, ruang perawatan khusus batik juga tersedia di sini jadi perawatan batik sangat maksimal di sini. Untuk koleksi batik tulis sendiri penyimpanannya harus di gulung agar tidak cepat rusak. Beberapa koleksinya yang terkenal antara lain: Kain Panjang Soga Jawa (1950-1960), Kain Panjang Soga Ergan Lama (tahun tidak tercatat), Sarung Isen-isen Antik (1880-1890), Sarung Isen-isen Antik (kelengan) (1880-1890) buatan Nyonya Belanda EV. Zeuylen dari Pekalongan, dan Sarung Panjang Soga Jawa (1920-1930) buatan Nyonya Lie Djing Kiem dari Yogyakarta. Semua koleksi yang ada dalam museum ini diperoleh dari keluarga pendiri Museum Batik Yogyakarta. Selain batik tulis dan batik cap disini juga terdapat koleksi batik printing, tetapi hasil yang dihasilkan tidak sebagus batik tulis, ada juga macam-macam bordiran, pola  border, sulaman dan kebaya encim walaupun sulaman tidak sebanyak batik tetapi sangat menarik sekali. Jika anda beruntung, anda dapat melihat pembuatan batik tulis, jika ingin belajar membatik di musem ini dikenakan biaya Rp. 25.000,00 perjam.
Setiap batik mempunyai filosofi sendiri dan berhubungan dengan adat Jawa itu sendiri. Batik Madu Bronto dikenakan untuk 2 sejoli yang menjalin suatu hubungan atau lebih kita kenal dengan berpacaran, batik Sido Dadi dikenakan jika kedua sejoli telah benar-benar serius dalam menjalin hubungan, batik Semen Rante dikenakan di saat prosesi lamaran berlangsung, untuk malam midodareni mengenakan batik Wahyu Temurun, batik Ceplok Dempel dikenakan untuk menyebar undangan pernikahan dan saat pernikahan berlangung menggunakan batik Sido Mukti. Untuk para orang tua dari masing-masing pengantin menggunakan batik Truntum Angkara/Truntum Ceplok dan untuk nenek menggenakan batik Sido Mulyo, selain prosesi pernikahan batik juga digunakan untuk acara sunatan, batik yang dikenakan ialah batik Pringondani.
Motif yang dapat terlihat dari batik pesisir ini biasanya dipengaruhi oleh akulturasi budaya, seperti budaya Arab, Belanda, Jawa, dan Cina sehingga motifnya pun bebas. Ciri lain dari batik pesisir adalah bentuk gambar dan warnanya yang bervariasi karena budaya pesisir memang lebih terbuka dan dinamis untuk menerima budaya baru yang masuk.
Batik pedalaman sendiri adalah batik yang berasal dari lingkungan keraton dan biasa dikenakan oleh kalangan bangsawan di keraton Surakarta dan keraton Yogyakarta. Motif dari batik pedalaman ini sendiri lebih monoton dengan warna kayu dan natural. Walaupun begitu, batik pedalaman mempunyai nilai filosofi tinggi dan digunakan untuk ritual adat atau keagamaan yang biasa dilaksanakan di lingkungan keraton.
Museum batik Yogyakarta menyimpan, mearawat dan melestarikan warisan seni budaya yang adhi luhung dalam pengelolaan tradisi berbusana. Seni batik Indonesia tetap terjaga dengan baik, meskipun proses pembuatan dan mutu berkembang dari masa ke masa. Museum Batik Yogyakarta berupaya mewariskan nilai-nilai seni batik yang adhi luhung kepada generasi muda Indonesia untuk mampu melestarikan warisan seni batik bangsa Indonesia juga menanamkan rasa handarbeni seni batik Indonesia sebagai milik bangsa Indonesia.
Menarikkan melancong sambil mendapat ilmu baru, monggo mampir..