Ads

Monday, 25 May 2015

Candi Sambisari Kalasan, Sleman.


Candi ini bernama Candi Sambisari, dinamakan Candi Sambisari karena letak candi tersebut berada di Dukuh Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak seperti candi-candi lainya candi ini memiliki keunikan yang membuat saya tertarik untuk mengunjunginya.


Pertama, candi ini letaknya didekat dengan perumahan warga sekitar, wow bisa dibayangkan bukan jadi di sekeliling candi ini merupakan area rumah warga dan persawahan. Kedua, candi ini merupakan candi bawah tanah, ya kog bisa dikatakan candi bawah tanah ? karena candi ini berada di bawah permukaan tanah dari tanah yang ada di sekelilingnya sedalam 6,5 meter. Jadi, untuk menuju ke candi kita harus menuruni anak tangga terlebih dahulu dan jumlah anak tangga yang harus dituruni sebanyak 40 anak tangga dari atas sampai ke bawah.  




Ketiga, candi ini memiliki bentuk persegi dengan benteng-benteng di sisi-sisinya. Terdapat satu candi utama dan tiga buah candi perwara. Keempat, candi ini sangat hijau dan tertata lengkap dengan tanaman hias yang mengelilinginya.Selain cocok untuk berwisata kawasan di area Candi Sambisari ini bisa juga untuk lokasi foto untuk acara prewedding atau acara lainya, tentunya sebelum mengadakan acara tersebut Anda bisa ijin kepada pihak pengelola Candi Sambisari yaitu BPCB DIY (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kelima, ini yang mungkin tidak ada di candi-candi lainya, yaitu bunker atau kalo saya menyebutnya rumah dari salah satu film yang digunakan dalam film "The Hobbit" bisa dikatakan "Rumah The Hobbit" ya gitulah. Sayangnya keadaanya sudah agak kurang terawat.




Keenam, candi ini memiliki parit di belakangnya yang bertujuan untuk mencegah supaya ketika hujan atau terjadi banjir air tersebut tidak menggenangi candi dan bisa masuk ke dalam parit ini. Ketujuh, Sebelum ditemukan pada tahun 1966, candi ini terkubur oleh material pasca letusan Gunung Merapi pada tahun 1906. Penemunya adalah seorang petani yang sedang mencangkul kala itu.

Selain itu, di dalam candi terdapat beberapa arca yang berada di teras candi, mulai dari arca Syiwa  di relung selatan, arca Ganesha di relung timur, dan arca Durga di relung utara. Didalam candi utama terdapat arca yang menggambarkan alat kelamin pria atau disebut Lingga dan Yoni yang berada di bagian bawahnya.  



Untuk masalah aksesnya, jangan takut karena kondisi jalan sudah cukup baik kog dan gak usah takut medanya juga nggak sulit, serta sudah ada plang penanda ke Candi Sambisari, so buat kamu yang masih malas-malasan untuk mengintip surganya Indonesia mendingan tidur aja hehe 

Untuk rute menuju ke Candi Sambisari, pertama cari rute Jl. Jogja-Solo, arah Kalasan. Jika Anda dari Jogja bisa dengan menuju ke arah Solo melewati Kantor Koran Kedaulatan Rakyat, kemudian dari sini pelankan kendaraan Anda dan ikuti plang menuju Balai Diklat Keuangan Yogyakarta, dari sini perjalanan masih harus lurus ke utara. Jadi dari Jl. Jogja-Solo tadi tepatnya di sebelah timur Kantor Kedaulatan Rakyat ( selatan jalan) atau melewati perumahan Green Land 100m ke timur.





Kemudian belok kiri melewati Balai Diklat Keuangan kemudian selanjutnya lurus saja sampai ujung jalan dan ketemu pertigaan, disini ada petunjuk jalan untuk menuju ke Candi Sambisari ikuti saja terus yaitu belok ke kiri sampai menemukan ujung jalan dan ketemu pertigaan lagi, disini selanjutnya ambil kanan dan masuk ke gang dengan tulisan Desa Sambisari. Lurus terus saja sampai ketemu tempat parkir dan sampailah kita di parkiran Candi Sambisari.

Setelah sampai di Candi Sambisari saya langsung bergegas memanjakan mata dengan banyaknya tanaman hijau yang terawat dan rapi di sekeliling Candi Sambisari. Rupanya nggak enak berkeliling candi tanpa mengetahui sejarah dan informasi yang terkandung di dalamnya. Kemudian setelah bingung kesana-kemari akhirnya saya putuskan untuk masuk ke ruang informasi yang berada di sebelah kiri dari pintu masuk candi.

Di tempat ini ternyata juga ada seorang yang sedang mempelajari sejarah dan perkembangan Candi Sambisari mulai dari di temukanya candi hingga sekarang, ya namanya Arbi. Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Mas Arbi yang merupakan siswa jurusan listrik dari SMK Jetis akhirnya Mas Arbi mau mengantarkan saya untuk berkeliling memutari Candi Sambisari. Sambil jalan-jalan di pinggiran candi yang memiliki taman yang bagus hijau dan bersih ini, saya mulai mengabadikan gambar yang wow banget.




Memang candi ini sangat istimewa dengan keunikan candi bawah permukaan tanah dan juga peninggalan yang masih belum dikerjakan. Ternyata banyak sekali arca/benda dari unsur batuan yang masih diletakan dan belum direstorasi, sungguh peradaban yang sudah maju dari nenek moyang kita yang perlu kita jaga dan lestarikan.

Candi Sambisari merupakan candi yang bercorak agama hindu, dengan satu candi utama dan tiga candi perwara di depanya dan juga dikelilingi benteng dengan tembok bebatuan yang indah. Menurut informasi yang ada di candi ini berada 6,5 meter di bawah permukaan tanah dan dahulu sebelum ditemukan, candi ini tertimbun oleh material dari letusan Gunung Merapi pada tahun 1906 . Kemudian pada tahun 1966 lahan yang sekarang Candi Sambisari dilakukan penelitian dan selesai dipugar pada tahun 1987. Sebelumnya Candi ini ditemukan oleh seorang petani yang sedang mencangkul di sawah, melihat cangkulnya menghantam benda keras lalu di amatilah benda itu ternyata sebuah pahatan batu yang kemudian digali dan memang terdapat candi ditempat tersebut.





Di dalam Candi terdapat sebuah patung Lingga yang merupakan sebuah identitas dari seorang laki-laki dan Yoni sebagai identitas untuk seorang perempuan. Kemudian disamping luar disisi-sisi candi terdapat beberapa arca diantaranya: Dewi Durga di sebelah utara, Ganesha di sisi timur, dan Agastya disisi selatan. Selanjutnya masih di area dalam candi, di luar bilik terdapat pahatan batuan yaitu bertekstur bulat dan kotak disisinya. Pahatan bertekstur kotak menggambarkan seorang laki-laki sedangkan yang bulat merupakan penggambaran perempuan. Selain itu, di candi ini juga masih terdapat sisa-sisa bebatuan yang tertata rapi dan dijadikan satu ke sebuah area yang letaknya persis di sebelah kiri dari mushola.







Di area ini Anda bisa melihat pahatan-pahatan seperti lingga dan yoni serta arca-arca yang masih belum ditemukan sambunganya. Batu-batu ini merupakan bagian dari batu candi perwara yang ada di Candi Sambisari. Dikarenakan terkubur cukup lama dan pecahan-pecahan dari batu ini terpisah maka disini batu-batu tersebut dikumpulkan dan dijadikan satu untuk mempermudah proses pengidentifikasian. Selain candi yang unik, suasana di candi ini juga terasa segar dan teduh kalo dalam bahasa jawa "edum". Ya, pantas saja karena disekelilingnya merupakan rerumputan yang hijau dan menyegarkan mata memandang.



Disamping itu juga terdapat pepohonan yang rindang yang sangat cocok untuk bersantai di bawahnya. Jangan khawatir kalau mau jalan-jalan mengelilingi candi dan mengeksplor suasana dan pemandangan menarik di candi yang satu ini. Wisatawan di tempat ini memang dimanjakan dengan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan kita, apalagi jika kamu misalnya kebelet atau pengen buang air kecil dan bingung mau mencari toiletnya dan lagi enak-enaknya mengobrol bersama temanmu disana ada juga toilet yang berada di ujung dari letak candi. Jadi gimana, sangat mempermudah bukan.





Fasilitas yang tersedia disana sudah lengkap pula, ada toilet ada mushola, ada ruang informasi, ada tempat parkir, ada warung makanya juga sehingga kamu yang lelah dapat beristirahat dan mencicipi makanan khas dari sana.


O iya, untuk tarif parkir kendaraan roda dua hanya Rp2000,-, tiket masuknya juga 2ribu muraaaah banget nggak ? Kapan lagi kalo gak pergi kesana kalo gak sekarang, ajak kawanmu dan keluargamu menikmati pemandangan warisan dari nenek moyang kita sekaligus melepas penat dan menghilangkan stres.


Informasi:
Jam Buka        >>> Setiap Hari pukul 06.00 - 17.30 WIB
Tiket Masuk    >>> Dewasa Rp2000,-
                       >>> Anak-Anak Rp1000,-
Parkir Motor   >>> Rp2000,-






Wednesday, 13 May 2015

New Selo, Basecamp Pendakian G. Merapi

Bulan Februari 2015 lalu merupakan awal dari dibukanya jalur pendakian ke Gunung Merapi yang sebelumnya ditutup. Melalui pintu gerbang New Selo, pendaki dapat memulai perjalananya setelah melakukan registrasi ke Barahmeru yaitu basecamp pendakian yang ada di Selo, Boyolali. 
 
Sebelum berangkat, persiapkan peralatan berikut ini: tenda lengkap dengan patok dan rangka, sleeping bags, matras, nesting, selimut, kaos tangan, masker, topi, sepatu, peralatan makan dan minum, makanan, minuman, plastik, jas hujan, sepatu, korek api,   








Candi Plaosan, Perpaduan Dua Arsitektur Hindu dan Budha

Candi Plaosan merupakan salah satu candi yang terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi ini didirikan oleh Raja Rakai Pikatan pada abad ke-9 Masehi sebagai bukti kecintaan raja kepada sang permaisuri yaitu Pramudya Wardhani yang bukan lain adalah anak gadis dari Samaratungga dari Dinasti Syailendra yang beragama Budha. Sedangkan, Rakai Pikatan adalah raja ke-6 dari silsilah raja yang pernah memerintah Kerajaan Mataram Kuno yang berasal dari Dinasti Sanjaya. 


Candi ini memiliki dua gaya arsitektur karena terpengaruh adanya perpaduan dua agama yaitu Hindu dan Budha. Hal ini didasarkan karena Rakai Pikatan yang berasal dari silsilah Hindu dan Pramudya Wardhani yang berasal dari silsilah Budha, walaupun berbeda budaya dan tidak disetujui oleh keluarga kisah percintaan mereka tidak berhenti begitu saja, sampai akhirnya dengan rasa kecintaan itu pula konon candi itu dibangun sendiri oleh Rakai Pikatan dibantu dengan sang Permaisuri Pramudya Wardhani, sehingga menghasilkan sebuah candi yang memiliki corak perpaduan dua budaya dan dua arsitektur yaitu Hindu dan Budha. Candi disebelah utara merupakan candi yang menggambarkan relief sosok perempuan yang konon dibangun oleh Rakai Pikatan sedangkan disebelah selatan menggambarkan relief laki-laki yang merupakan simbol dari Rakai pikatan yang konon dibangun oleh Pramudya Wardhani sebagai peninggalan kisah cinta mereka berdua.




Keindahan Candi Plaosan tidak berhenti sampai disitu saja, hingga saat ini masih terdapat mitos yang berhubungan dengan candi ini. Mitos yang beredar di masyarakat yaitu bahwasanya setiap pasangan yang datang ke candi ini dipercaya mendapat berkah dan untuk pasangan yang belum memiliki momongan bisa datang juga kesini karena mitosnya pasangan yang belum dikaruniai momongan akan cepat memiliki buah hati dan diberkahi oleh sang pencipta.

Thursday, 7 May 2015

Embung Sriten, Nglipar, Gunungkidul dan Puncak Magir

Mau ke Embung Sriten ? atau sedang mencari referensi tentang Embung Sriten yang berada di Gunungkidul ini ? Gak tahu jalan menuju Embung Sriten ? yukk disimak postingan berikut ini

Profil Embung Bathara Sriten

Gambar Embung Sriten (Jogja.co)
Embung Sriten terletak di Desa Pilangrejo, Nglipar, Gunungkidul. Embung yang diresmikan secara langsung oleh Bapak Sri Sultan Hamengku Buwana X ini merupakan embung yang digadang-gadang menjadi salah satu daya tarik wisata di agrowisata ini.  

Pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang embung yang berada diatas Gunung Batur Agung ini. Selain itu di area ini ada puncak tertinggi namanya Puncak Magir.

Embung Sriten diproyeksikan sebagai agrowisata kebun buah menggis dan kelengkeng di perbukitan Batur Agung. Gunung Batur Agung itu sendiri merupakan puncak gunung tertinggi di Gunungkidul atau Puncak Tugu Magir dengan ketinggian sekitar 896 mdpl.


Gambar Puncak Tugu Magir (Kedaisusu01.blogspot.com)
Menikmati pesona embung diatas awan dan pemandangan yang luar biasa indah dengan view 360 derajat kawasan persawahan, perkampungan, perbukitan, dan beberapa wilayah Klaten seperti Rawa Jombor, Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Sleman, Gunung Kidul dan Yogyakarta (kedaisusu01.blogspot.com).
Disini juga sudah ada warung kecil, gazebo dan joglo (bangunan adat suku Jawa).




 



Jika Anda dari Jogja, mencari rute arah Jalan Wonosari melewati Piyungan, Patuk dan sampai pada Pertigaan Sambi 7 masuk ke arah Nglipar. Kemudian ikuti arah jalan ini sampai di pertigaan yang ada tugu di tengah-tengah jalan. Dari pertigaan tersebut belok kiri/arah Ngawen (kalau lurus arah wonosari kota). Setelah itu Pertigaan Ngrempak ambil kiri arah Desa Pilangrejo, sampai di balai Desa Pilangrejo masuk arah Embung Sriten. 

Catatan: saya sarankan tidak memakai motor matic karena menurut saya berbahaya pada saat turunan, karena motor ini hanya mengandalkan pengereman saja. Lebih baik memakai motor bebek atau motor laki-laki. 

Anda juga bisa menemukan Embung Sriten ini dengan bantuan GPS dengan koordinat berada pada S7°49'56" E110°37'54

Friday, 13 March 2015

Air Terjun Curug Bayat (Curug Indah Tegal Rejo) Gunungkidul

Sesuai namanya air terjun atau curug ini dinamakan Curug Indah Tegalrejo karena lokasi air terjun ini di Desa Tegalrejo, Gedangsari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tepatnya lagi berbatasan dengan Kabupaten Klaten, letaknya di selatan Kecamatan Bayat. Air terjun ini memiliki mata air yang jernih jika tidak terkena hujan, maklum kalo hujan ya airnya coklat dan keruh karena di atas sebelah kanan dan kiri adalah pegunungan. Untuk menuju tempat ini saya sarankan lebih baik lewat Klaten karena walaupun berada di Gunungkidul, jarak dari Kecamatan Bayat tidak terlalu jauh dan misalkan anda dari Jogja melewati Pathuk kemudian Wonosari akan membuang banyak waktu anda. Rute yang saya sarankan dari Jogja menuju tempat ini adalah sbb :

- Jogja - Prambanan - Tegalmas - Stasiun Srowot - Pasar Wedi - Kecamatan Bayat - Kodim Bayat - Kelurahan Tegalrejo - Curug

Jalan yang dilalui mulai dari Jogja - Kelurahan Tegalrejo sudah diaspal, dari Kelurahan sampai curug jalan agak berubah dan mulai menanjak serta jalan tidak rata dan ada sedikit bebatuan, keep safety aja. Disamping adalah tempat parkir sepeda motor serta jalan yang harus dilalui untuk sampai ke Curug ini, cukup memberi pengalaman yang seru kok,...






Atraksi wisata yang dapat anda lakukan disini antara lain : mandi, tapi saya sarankan jangan mencoba menaiki tebing diatas lalu kemudian terjun bebas ke bawah hal ini sangat berbahaya karena banyak bebatuan cadas dibawahnya. Kemudian anda juga bisa berfoto disini dengan background air terjun atau sungai yang mengaliri air terjun ini juga sangat eksotis. Ada juga jembatan kayu yang cocok untuk dijadikan lokasi preweed kamu tuh,...  



Nih, tak kasih gambar sungai nya, tapi ini warna pohonya tetep ijo loh seharusnya, pada waktu itu pas njepret lupa ngeset warna alhasil dapetnya kaya gitu karena keburu ada acara yang mendadak whahaow.

O iya untuk tiket masuk sepertinya gratis karna pada waktu kesana tidak aja petugas yang jaga dan sepertinya pengelola curug ini masih kurang serius untuk mengembangkan tempat nan eksotis ini, ya mudah-mudahan dari dinas terkait khususnya Dinas Pariwisata Gunungkidul lebih memperhatikan dan mulai mengembangkan kawasan ini dengan membentuk POKDARWIS di desa ini agar lebih bermanfaat dan memberikan tambahan ekonomi warga sekitar.